Chapter 1
---------
Di suatu kerajaan yang megah hiduplah seorang Rahib muda yang tampan lagi cerdas, ia bernama Wook Ad.
Ia belajar tentang ilmu alam, agama, ilmu sikap, dan berbagai disiplin ilmu di Maha Guru kerajaan yaitu Fen Nam. Di kerajaan itu Fen Nam adalah orang yang sangat dipercaya oleh raja. Walaupun orang kerpercayaan, tetapi Fen Nam tidak bisa mengubah suatu tradisi kerajaan yang bertentangan dengan ajarannya Fen Nam.
Wook Ad adalah murid kesayangan Fen Nam karena dia seorang yang rajin, pintar, dan patuh. Setiap harinya Wook Ad menemani Fen Nam untuk mengurusi urusan kerajaan, seperti membuat peraturan kerajaan, memberi pelajaran kepada putra-putri raja, atau setidaknya hanya jalan-jalan di sekitar kerajaan. Dan Wook Ad menikmati itu.
"Guru Fen jika takdir memang sudah ditentukan Tuhan maka jika ada kerajaan yang lain menyerang maka kita tidak usah melawan? Kita tunggu saja takdir Tuhan apa kalau begitu," tanya raja suatu ketika kepada Guru Fen dan Wook Ad berada di luar ruangan sambil mendengarkan.
"Kita diam tidak melawan itu pun sudah takdir Tuhan, Baginda Raja," jawab Guru Fen dengan sikapnya yang kharimastik.
"Lalu?" tanya Raja lagi.
"Seperti kesukaan Baginda yaitu wayang. Mereka wayang hanya melakukan sesuatu sesuai kehendak dalang, karena mereka terbuat dari kulit. Jika Si Dalang menginginkan wayang yang baik diam saja ketika wayang jahat datang, maka wayang baik akan diam saja," jawab Guru Fen, lalu menarik nafasnya.
"Coba jika wayang itu adalah wayang manusia, maka walaupun ada dalang, wayang manusia itu tidak selalu melakukan apa kata dalang. Terkadang wayang manusia itu mengobrol dengan penonton di saat pertunjukan atau membuat lelucon agar penonton terhibur," kata Fan Nem.
"Kalau begitu Wahai Rahib, loncatlah dari istana ini! Apakah takdirmu hidup atau mati!" ucap Raja yang sebenarnya belum mengerti apa kata rahib yang tua itu.
Raja Hem Ki di usianya yang sudah menginjak 81 tahun sebenarnya hanya risih saja, karena kerjaan seberang dikabarkan akan melakukan perluasan wilayah dengan menyerang kerajaan sekitarnya. Raja memanggil Rahib itu agar hatinya tenang, dia khawatir di usianya yang sudah tua tidak bisa memimpin pertempuran nanti, tidak ada satu pun orang yang dipercaya oleh Raja untuk menyusun strategi. Maka dari itu, Raja Hem Ki menanyakan soal takdir kepada Guru Fen, melihat kerajaannya yang sedang kekeringan, kelaparan di mana-mana, itu sangat tidak memungkinkan untuk perang, maka dari itu Raja takut bahwa takdir berkata kerajaannya kalah.
"Bukan hak kita untuk menguji takdir, tapi hak-Nya lah untuk menguji kita. Kau tak perlu risih Wahai Raja akan kerajaan seberang yang akan menyerang, kau nikahkan saja putramu Gem Ki kepada putri kerajaan itu, maka tidak akan ada rasa bersaing antar kerajaan, namun akan ada rasa persaudaraan," usul Guru Fen.
Wook Ad mendengar semua itu, ia begitu kagum kepada Sang Guru. Sang Guru begitu bijak dalam memberikan usulan bagi kerajaan, sehingga tidak terjadi peperangan.
Maka, benar. Dua bulan kemudia kedua belah pihak setuju Pangeran Gem Ki dinikahkan dengan Putri Kin Nay, dan satu tahun kemudia lahirlah seorang putri yang diberi nama Hyu Ki.
Sang Guru Fen suatu ketika jatuh sakit, dia menyuruh Wook Ad untuk menggantikan dia mengajar keluarga kerajaan, putra-putri Raja Hem Ki yang belum dewasa yaitu Pangeran Woon Ki, Pangeran Sin Ki, dan Sang Putri Hel Ki.
Putri Hel Ki sangat cantik, di kerjaan itu tidak ada yang mengalahkan kecantikannya, namun , Putri Hel Ki tidak pernah dipublikasikan kepada rakyat. Dia hanya boleh berkeliling sekitar kerajaan, atau jika ingin keluar maka hanya boleh naik kereta kuda, dan tidak boleh bertegur sapa dengan rakyat. Mungkin, Raja sangat menyayangi Sang Putri yang berusia sama seperti Wook Ad itu, yaitu 17 tahun.
Pertama kali mengajar generasi kerajaan dan melihat Puteri Hel Ki, Wook Ad langsung jatuh hati dengan kecantikannya.
Mengajar putera-puteri kerajaan hanya dengan menyampaikan ilmu agama saja, jadi guru yang terus bicara tanpa ada dialog antara WookAd dan mereka. Namun, Wook Ad menikmatinya.
Wook Ad tanpa disadari sudah jatuh sangat dalam kepada Puteri Hel Ki. Sampai-sampai setiap harinya Wood Ad menulis sebuah puisi, sanubari hatinya kepada Puteri Hel Ki di atas daun-daun. Daun-daun tersebut ia tulis di atasnya bait-bait kecil puisi oleh tinta, lalu ia kumpulkan.
"Tak semua para pelaut hebat bisa berenang, tak semua pula para pecinta kuat bisa mengendalikan dirinya. Semoga aku bisa berenang atau setidaknya kau jangan menenggelamkan," puisi pertama Wook Ad yang ia tulis di atas daun.
Wook Ad tahu bahwa menulis di atas daun tidak akan tahan lama, karena akan kering. Maka dengan semangatnya Ia menulis bait-bait hatinya untuk Sang Puteri, walaupun Sang Puteri tidak mengetahui hal tersebut.
"Jangan terlalu lembut masuk ke malam kelam, Ad" ucap Sang Guru Fen ketika mengetahui puisi-puisi Wook.
"Eh, Guru. Kau sudah tau, ya? Aku jadi malu," timpal Wook dengan malu-malu.
Guru Fen pun tersenyum pergi meninggalkan Wook. Wook pun meneruskan puisi-puisinya untuk Hel Ki.
Hari demi hari, tak terasa sudah berganti musim, dan inilah saatnya datang musim paceklik, dan akan datang pula sebuah ritual yang dirahasiakan Kerajaan.
"Aku tau kau tak pernah berusaha menarikku untuk jatuh, tidak sama sekali! Kau hanya menjadi dirimu sendiri dan akulah yang dengan sendirinya tenggelam," tulis Wook di atas daun.
"Ini saatnya hari penuh bunga sakura semoga tersampai. Hel Ki bukan kah cinta tanpa batas usia, jarak dan juga takhta?" itulah bunyi puisi terakhir Wook Ad sebelum memberikan semua daun itu kepada Tuan Puteri.
"Tuan Puteri Hel Ki, tunggu!" teriak Wook Ad sambil berlari mengejar Hel Ki yang sedang berjalan di sekitar istana.
"Ya?" Hel Ki membalikkan badannya dengan anggun.
Itulah pertama kalinya Wook Ad saling menatap bersama Puteru Hel Ki. Sanubari Wook Ad begitu bergejolak begitu dahsyat saat ingin memberikan daun-daun itu.
Tanpa berpikir lama Wook Ad langsung memberikan daun-daun itu kepada Tuan Puteri dan menunggu responnya.
Daun-daun dibaca oleh Hel Ki dengan seksama, satu dua daun ia baca namun daun-daun berikutnya ia lewat dan langsung ke daun terakhir. Dahinya mengkerut, lalu menatap Wook Ad dalam.
"Kau! Beraninya jatuh cinta padaku! Walaupun kau sebagai guru muda kerajaan, wajah tampanmu tak ada celah untukmu untuk setara dengaku! Pergi! Kuburlah cintamu, atau jangan lagi mengajar di kerajaan ini!" ucap Puteri Hel Ki, lalu meninggalkan Wook Ad.
Di pagi yang cerah itu, hati Wook Ad malah sangat hancur. Ia tak menyangka Puteri Hel Ki yang wajahnya sangat halus itu mengeluarkan kata-kata begitu kasarnya.
Wook Ad membereskan daun-daun tersebut dengan hati yang hancur, lalu berlari menuju kamarnya yang seruangan dengan Guru Fen, sebelah selatan istana.
Gury Fen tahu bahwa cintanya akan ditolak, apalagi melihat Wook Ad yang tiba-tiba masuk kamarnya dengan suram.
"Ad, terimalah. Ini tadir-Nya, bukan takdirmu. Sesulit apa pun sebuah angin kehidupan, pasti esok hari bibirmu akan terangkat lagi," ucap Guru Fen yang berdiri di depan kamar Wook Ad.
Wook Ad tidak membukakan pintunya.
"Ad, ada rahasia kerajaan yang tak kau tau. Seolah kita dipandang sebagai orang suci di masyarakat, tapi di istana ini kita hanyalah bintang jauh di sana yang memperindah langit kelam," ucap Guru Fen kembali.
Wook Ad langsung membukakan pintunya.
"Apa itu Guru Fen?" tanya Wook Ad.
"Esok, Ad! Kau akan tahu, namun kau harus menutup mulutmu selamanya untuk menjaga nyawamu. Maafkan aku Ad, guruku pun dahulu tak bisa merubahnya, maafkan aku," jawab Guru Fen.
"Apa itu Guru?" desak Wook.
"Menghancurkan satu tubuh itu lebih mudah dari pada menutup lisannya," ucap Guru Fen.
Mendengar hal itu Wook mengerti, bahwa jika Guru Fen membocorkan rahasia kerajaan maka nyawa guru tersayangnya itu akan terancam.
Wook hanya seorang murid yatim piatu kesayangan Guru Fen. Selain mengajar dan tinggal di kerajaan, Guru Fen pun dahulunya mengajar juga di sekolah rakyat. Namun, setelah gurunya Guru Fen meninggal, Guru Fen tak mengajar lagi di sekolah rakyat, dan mengajak Wook membantunya.
Malamnya, Wook tidak bisa tidur. Ia melamun di taman kerajaan yang berhadapan langsung dengan sebuah danau, melihat bintang menikmati kekuasaan Tuhan.
"Wook Ad aku mencintaimu, mari kita hidup bersama dan tinggalkan kerajaan ini," ucap Puteri Hel Ki yang tiba-tiba datang dengan air mata lalu berlutut dihadapan Wook Ad.
Ada rasa iba di hati Wook Ad, tetapi kabur dari kerajaan? Apa maksudnya?
"Lupakan kata-kataku tadi pagi, lupakan tentang setara itu! Aku mencintaimu! Aku tahu sakitnya hatimu oleh kata-kataku. Hidup kita bisa berjalan lancar, aku mempunyai banyak tabungan," melas Hel Ki.
"Maaf, aku mencintaimu tapi tidak butuh belas kasihmu," ucap Wook Ad meninggalkan Hel Ki.
"Ad! Kumohon!" teriak Sang Puteri dengan air mata.
Wook Ad meninggalkan Puteri Hel Ki dengan hati hampa, dan terlelap.
Keesokan paginya, ada yang aneh dengan kerajaan. Kerajaan dijaga ketat, lonceng dibunyikan, dan Wook bersama Guru Fen tidak boleh keluar dari ruangan.
Wook melihat dari celah pintu raja dan Puteri Hel Ki melewati ruangannya, sesuatu hal yang tidak pernah ia lihat. Wajah Puteri Hel Ki sangat menyedihkan, kecantikannya hampir saja punah, sedangkan raja masih berwibawa.
"Ada apa ini Guru Fen?" tanya Wook Ad.
"Paceklik sudah satu tahun lamanya, itu malapetaka bagi kerajaan kita yang terkenal makmur. Mengapa para Puteri Kerajaan yang paling cantik selalu dirahasiakan? Karena Sang Puteri suatu saat akan dijadikan tumbal untuk Dewa Kemakmuran," jawab Guru Fen.
Wook Ad langsung lari dan segera dihadang oleh Guru Fen.
"Di mana guru? Di mana Puteri Hel Ki akan dibawa?" tanya Wook Ad.
"Di taman belakang ada sebuah danau, bukan?" ucap Guru Fen.
Wook Ad lari keluar menuju danau dan semua telat. Raja sudah tidak ada, Puteri Hel Ki pun tak ada.
Wook Ad berenang masuk ke dalam danau, sudah terlambat. Hel Ki diikat badannya dan ditenggelamkan dengan batu. Wook Ad pun melihat banyak pakaian puteri disana, namun hanya membalut tengkorak saja.
Wook Ad melepaskan ikatan itu dan memeluk Hel Ki yang menatapnya kosong.
Hel Ki sudah tidak ada, matanya hanya kosong. Wook Ad pun membawanya ke tepi, memeluk Hel Ki, dan menutup mata Hel Ki dengan air mata.
Rasa sesal dalam hati Wook Ad karena tidak menerima permohonan Puteri Hel Ki tadi malam, Wook hanya menangis.
"Sudah kukatakan Ad, anakku. Jangan terlalu lembut masuk ke dalam malam kelam. Bukalah tirai dirimu, lalu perbaiki," ucap Guru Fen mengusap kepala Wook Ad sembari memberikan sepucuk surat.
"Salam Guru Fen, surat ini kutuliskan sendiri, Puteri Hel Ki. Guru Fen, aku remaja biasa pula, yang wajar merasakan cinta. Guru pasti mengerti apa maksudku, karena Guru telah mengajari dari aku kecil.
Maafkan Guru Fen, acap kali Guru tak bisa hadir di kelas, aku selalu bahagia, karena dengan Guru Wook, aku bisa merasakan cinta. Namun, Guru pun tahu sebuah tradisi kerajaan.
Pagi tadi Guru Wook, tanpa aku sangka memberikan beberapa helai daun yang berisikan puisi, aku bahagia, namun aku tahu kita takkan bisa bersama, karena ajalku ditentukan oleh Ayahku. Aku terpaksa berkata kasar kepada Guru Wook, karena mungkin itu cara agara dia membenciku.
Guru Fen, malam ini akan kuajak Guru Wook untuk membawaku lari dari kerajaan ini, karena setelah aku merenung, betapa tak adilnya Ayahku, mengorbankan putri-putrinya untuk tumbal kepada Dewa.
Jika esok aku dan Guru Wook tak ada, Guru Fen segera bakar surat ini. Tapi, jika hanya aku saja yang tak ada, maka berikanlah surat ini kepada Guru Wook, bahwa aku sangat mencintainya.
Ufuk-ufuk sanubariku menjerit dalam dekapan sukma berhimpun-himpun jiwa, senyumku dalam danau keniscayaan takkan lekang dengan siapa engkau mendekap kelak.
Puteri hel Ki, ".
* * *
Oleh Euros Cum
Coming Soon judul berikutnya yaitu Wook Ad.
---------
Di suatu kerajaan yang megah hiduplah seorang Rahib muda yang tampan lagi cerdas, ia bernama Wook Ad.
Ia belajar tentang ilmu alam, agama, ilmu sikap, dan berbagai disiplin ilmu di Maha Guru kerajaan yaitu Fen Nam. Di kerajaan itu Fen Nam adalah orang yang sangat dipercaya oleh raja. Walaupun orang kerpercayaan, tetapi Fen Nam tidak bisa mengubah suatu tradisi kerajaan yang bertentangan dengan ajarannya Fen Nam.
Wook Ad adalah murid kesayangan Fen Nam karena dia seorang yang rajin, pintar, dan patuh. Setiap harinya Wook Ad menemani Fen Nam untuk mengurusi urusan kerajaan, seperti membuat peraturan kerajaan, memberi pelajaran kepada putra-putri raja, atau setidaknya hanya jalan-jalan di sekitar kerajaan. Dan Wook Ad menikmati itu.
"Guru Fen jika takdir memang sudah ditentukan Tuhan maka jika ada kerajaan yang lain menyerang maka kita tidak usah melawan? Kita tunggu saja takdir Tuhan apa kalau begitu," tanya raja suatu ketika kepada Guru Fen dan Wook Ad berada di luar ruangan sambil mendengarkan.
"Kita diam tidak melawan itu pun sudah takdir Tuhan, Baginda Raja," jawab Guru Fen dengan sikapnya yang kharimastik.
"Lalu?" tanya Raja lagi.
"Seperti kesukaan Baginda yaitu wayang. Mereka wayang hanya melakukan sesuatu sesuai kehendak dalang, karena mereka terbuat dari kulit. Jika Si Dalang menginginkan wayang yang baik diam saja ketika wayang jahat datang, maka wayang baik akan diam saja," jawab Guru Fen, lalu menarik nafasnya.
"Coba jika wayang itu adalah wayang manusia, maka walaupun ada dalang, wayang manusia itu tidak selalu melakukan apa kata dalang. Terkadang wayang manusia itu mengobrol dengan penonton di saat pertunjukan atau membuat lelucon agar penonton terhibur," kata Fan Nem.
"Kalau begitu Wahai Rahib, loncatlah dari istana ini! Apakah takdirmu hidup atau mati!" ucap Raja yang sebenarnya belum mengerti apa kata rahib yang tua itu.
Raja Hem Ki di usianya yang sudah menginjak 81 tahun sebenarnya hanya risih saja, karena kerjaan seberang dikabarkan akan melakukan perluasan wilayah dengan menyerang kerajaan sekitarnya. Raja memanggil Rahib itu agar hatinya tenang, dia khawatir di usianya yang sudah tua tidak bisa memimpin pertempuran nanti, tidak ada satu pun orang yang dipercaya oleh Raja untuk menyusun strategi. Maka dari itu, Raja Hem Ki menanyakan soal takdir kepada Guru Fen, melihat kerajaannya yang sedang kekeringan, kelaparan di mana-mana, itu sangat tidak memungkinkan untuk perang, maka dari itu Raja takut bahwa takdir berkata kerajaannya kalah.
"Bukan hak kita untuk menguji takdir, tapi hak-Nya lah untuk menguji kita. Kau tak perlu risih Wahai Raja akan kerajaan seberang yang akan menyerang, kau nikahkan saja putramu Gem Ki kepada putri kerajaan itu, maka tidak akan ada rasa bersaing antar kerajaan, namun akan ada rasa persaudaraan," usul Guru Fen.
Wook Ad mendengar semua itu, ia begitu kagum kepada Sang Guru. Sang Guru begitu bijak dalam memberikan usulan bagi kerajaan, sehingga tidak terjadi peperangan.
Maka, benar. Dua bulan kemudia kedua belah pihak setuju Pangeran Gem Ki dinikahkan dengan Putri Kin Nay, dan satu tahun kemudia lahirlah seorang putri yang diberi nama Hyu Ki.
Sang Guru Fen suatu ketika jatuh sakit, dia menyuruh Wook Ad untuk menggantikan dia mengajar keluarga kerajaan, putra-putri Raja Hem Ki yang belum dewasa yaitu Pangeran Woon Ki, Pangeran Sin Ki, dan Sang Putri Hel Ki.
Putri Hel Ki sangat cantik, di kerjaan itu tidak ada yang mengalahkan kecantikannya, namun , Putri Hel Ki tidak pernah dipublikasikan kepada rakyat. Dia hanya boleh berkeliling sekitar kerajaan, atau jika ingin keluar maka hanya boleh naik kereta kuda, dan tidak boleh bertegur sapa dengan rakyat. Mungkin, Raja sangat menyayangi Sang Putri yang berusia sama seperti Wook Ad itu, yaitu 17 tahun.
Pertama kali mengajar generasi kerajaan dan melihat Puteri Hel Ki, Wook Ad langsung jatuh hati dengan kecantikannya.
Mengajar putera-puteri kerajaan hanya dengan menyampaikan ilmu agama saja, jadi guru yang terus bicara tanpa ada dialog antara WookAd dan mereka. Namun, Wook Ad menikmatinya.
Wook Ad tanpa disadari sudah jatuh sangat dalam kepada Puteri Hel Ki. Sampai-sampai setiap harinya Wood Ad menulis sebuah puisi, sanubari hatinya kepada Puteri Hel Ki di atas daun-daun. Daun-daun tersebut ia tulis di atasnya bait-bait kecil puisi oleh tinta, lalu ia kumpulkan.
"Tak semua para pelaut hebat bisa berenang, tak semua pula para pecinta kuat bisa mengendalikan dirinya. Semoga aku bisa berenang atau setidaknya kau jangan menenggelamkan," puisi pertama Wook Ad yang ia tulis di atas daun.
Wook Ad tahu bahwa menulis di atas daun tidak akan tahan lama, karena akan kering. Maka dengan semangatnya Ia menulis bait-bait hatinya untuk Sang Puteri, walaupun Sang Puteri tidak mengetahui hal tersebut.
"Jangan terlalu lembut masuk ke malam kelam, Ad" ucap Sang Guru Fen ketika mengetahui puisi-puisi Wook.
"Eh, Guru. Kau sudah tau, ya? Aku jadi malu," timpal Wook dengan malu-malu.
Guru Fen pun tersenyum pergi meninggalkan Wook. Wook pun meneruskan puisi-puisinya untuk Hel Ki.
Hari demi hari, tak terasa sudah berganti musim, dan inilah saatnya datang musim paceklik, dan akan datang pula sebuah ritual yang dirahasiakan Kerajaan.
"Aku tau kau tak pernah berusaha menarikku untuk jatuh, tidak sama sekali! Kau hanya menjadi dirimu sendiri dan akulah yang dengan sendirinya tenggelam," tulis Wook di atas daun.
"Ini saatnya hari penuh bunga sakura semoga tersampai. Hel Ki bukan kah cinta tanpa batas usia, jarak dan juga takhta?" itulah bunyi puisi terakhir Wook Ad sebelum memberikan semua daun itu kepada Tuan Puteri.
"Tuan Puteri Hel Ki, tunggu!" teriak Wook Ad sambil berlari mengejar Hel Ki yang sedang berjalan di sekitar istana.
"Ya?" Hel Ki membalikkan badannya dengan anggun.
Itulah pertama kalinya Wook Ad saling menatap bersama Puteru Hel Ki. Sanubari Wook Ad begitu bergejolak begitu dahsyat saat ingin memberikan daun-daun itu.
Tanpa berpikir lama Wook Ad langsung memberikan daun-daun itu kepada Tuan Puteri dan menunggu responnya.
Daun-daun dibaca oleh Hel Ki dengan seksama, satu dua daun ia baca namun daun-daun berikutnya ia lewat dan langsung ke daun terakhir. Dahinya mengkerut, lalu menatap Wook Ad dalam.
"Kau! Beraninya jatuh cinta padaku! Walaupun kau sebagai guru muda kerajaan, wajah tampanmu tak ada celah untukmu untuk setara dengaku! Pergi! Kuburlah cintamu, atau jangan lagi mengajar di kerajaan ini!" ucap Puteri Hel Ki, lalu meninggalkan Wook Ad.
Di pagi yang cerah itu, hati Wook Ad malah sangat hancur. Ia tak menyangka Puteri Hel Ki yang wajahnya sangat halus itu mengeluarkan kata-kata begitu kasarnya.
Wook Ad membereskan daun-daun tersebut dengan hati yang hancur, lalu berlari menuju kamarnya yang seruangan dengan Guru Fen, sebelah selatan istana.
Gury Fen tahu bahwa cintanya akan ditolak, apalagi melihat Wook Ad yang tiba-tiba masuk kamarnya dengan suram.
"Ad, terimalah. Ini tadir-Nya, bukan takdirmu. Sesulit apa pun sebuah angin kehidupan, pasti esok hari bibirmu akan terangkat lagi," ucap Guru Fen yang berdiri di depan kamar Wook Ad.
Wook Ad tidak membukakan pintunya.
"Ad, ada rahasia kerajaan yang tak kau tau. Seolah kita dipandang sebagai orang suci di masyarakat, tapi di istana ini kita hanyalah bintang jauh di sana yang memperindah langit kelam," ucap Guru Fen kembali.
Wook Ad langsung membukakan pintunya.
"Apa itu Guru Fen?" tanya Wook Ad.
"Esok, Ad! Kau akan tahu, namun kau harus menutup mulutmu selamanya untuk menjaga nyawamu. Maafkan aku Ad, guruku pun dahulu tak bisa merubahnya, maafkan aku," jawab Guru Fen.
"Apa itu Guru?" desak Wook.
"Menghancurkan satu tubuh itu lebih mudah dari pada menutup lisannya," ucap Guru Fen.
Mendengar hal itu Wook mengerti, bahwa jika Guru Fen membocorkan rahasia kerajaan maka nyawa guru tersayangnya itu akan terancam.
Wook hanya seorang murid yatim piatu kesayangan Guru Fen. Selain mengajar dan tinggal di kerajaan, Guru Fen pun dahulunya mengajar juga di sekolah rakyat. Namun, setelah gurunya Guru Fen meninggal, Guru Fen tak mengajar lagi di sekolah rakyat, dan mengajak Wook membantunya.
Malamnya, Wook tidak bisa tidur. Ia melamun di taman kerajaan yang berhadapan langsung dengan sebuah danau, melihat bintang menikmati kekuasaan Tuhan.
"Wook Ad aku mencintaimu, mari kita hidup bersama dan tinggalkan kerajaan ini," ucap Puteri Hel Ki yang tiba-tiba datang dengan air mata lalu berlutut dihadapan Wook Ad.
Ada rasa iba di hati Wook Ad, tetapi kabur dari kerajaan? Apa maksudnya?
"Lupakan kata-kataku tadi pagi, lupakan tentang setara itu! Aku mencintaimu! Aku tahu sakitnya hatimu oleh kata-kataku. Hidup kita bisa berjalan lancar, aku mempunyai banyak tabungan," melas Hel Ki.
"Maaf, aku mencintaimu tapi tidak butuh belas kasihmu," ucap Wook Ad meninggalkan Hel Ki.
"Ad! Kumohon!" teriak Sang Puteri dengan air mata.
Wook Ad meninggalkan Puteri Hel Ki dengan hati hampa, dan terlelap.
Keesokan paginya, ada yang aneh dengan kerajaan. Kerajaan dijaga ketat, lonceng dibunyikan, dan Wook bersama Guru Fen tidak boleh keluar dari ruangan.
Wook melihat dari celah pintu raja dan Puteri Hel Ki melewati ruangannya, sesuatu hal yang tidak pernah ia lihat. Wajah Puteri Hel Ki sangat menyedihkan, kecantikannya hampir saja punah, sedangkan raja masih berwibawa.
"Ada apa ini Guru Fen?" tanya Wook Ad.
"Paceklik sudah satu tahun lamanya, itu malapetaka bagi kerajaan kita yang terkenal makmur. Mengapa para Puteri Kerajaan yang paling cantik selalu dirahasiakan? Karena Sang Puteri suatu saat akan dijadikan tumbal untuk Dewa Kemakmuran," jawab Guru Fen.
Wook Ad langsung lari dan segera dihadang oleh Guru Fen.
"Di mana guru? Di mana Puteri Hel Ki akan dibawa?" tanya Wook Ad.
"Di taman belakang ada sebuah danau, bukan?" ucap Guru Fen.
Wook Ad lari keluar menuju danau dan semua telat. Raja sudah tidak ada, Puteri Hel Ki pun tak ada.
Wook Ad berenang masuk ke dalam danau, sudah terlambat. Hel Ki diikat badannya dan ditenggelamkan dengan batu. Wook Ad pun melihat banyak pakaian puteri disana, namun hanya membalut tengkorak saja.
Wook Ad melepaskan ikatan itu dan memeluk Hel Ki yang menatapnya kosong.
Hel Ki sudah tidak ada, matanya hanya kosong. Wook Ad pun membawanya ke tepi, memeluk Hel Ki, dan menutup mata Hel Ki dengan air mata.
Rasa sesal dalam hati Wook Ad karena tidak menerima permohonan Puteri Hel Ki tadi malam, Wook hanya menangis.
"Sudah kukatakan Ad, anakku. Jangan terlalu lembut masuk ke dalam malam kelam. Bukalah tirai dirimu, lalu perbaiki," ucap Guru Fen mengusap kepala Wook Ad sembari memberikan sepucuk surat.
"Salam Guru Fen, surat ini kutuliskan sendiri, Puteri Hel Ki. Guru Fen, aku remaja biasa pula, yang wajar merasakan cinta. Guru pasti mengerti apa maksudku, karena Guru telah mengajari dari aku kecil.
Maafkan Guru Fen, acap kali Guru tak bisa hadir di kelas, aku selalu bahagia, karena dengan Guru Wook, aku bisa merasakan cinta. Namun, Guru pun tahu sebuah tradisi kerajaan.
Pagi tadi Guru Wook, tanpa aku sangka memberikan beberapa helai daun yang berisikan puisi, aku bahagia, namun aku tahu kita takkan bisa bersama, karena ajalku ditentukan oleh Ayahku. Aku terpaksa berkata kasar kepada Guru Wook, karena mungkin itu cara agara dia membenciku.
Guru Fen, malam ini akan kuajak Guru Wook untuk membawaku lari dari kerajaan ini, karena setelah aku merenung, betapa tak adilnya Ayahku, mengorbankan putri-putrinya untuk tumbal kepada Dewa.
Jika esok aku dan Guru Wook tak ada, Guru Fen segera bakar surat ini. Tapi, jika hanya aku saja yang tak ada, maka berikanlah surat ini kepada Guru Wook, bahwa aku sangat mencintainya.
Ufuk-ufuk sanubariku menjerit dalam dekapan sukma berhimpun-himpun jiwa, senyumku dalam danau keniscayaan takkan lekang dengan siapa engkau mendekap kelak.
Puteri hel Ki, ".
* * *
Oleh Euros Cum
Coming Soon judul berikutnya yaitu Wook Ad.
Comments
Post a Comment