Skip to main content

16 September

Aku berharap patah hatimu
Bolehkah?
Sebentar saja

Aku berdoa semoga hatimu patah
berkeping-keping,

Biar kau tak merindu,
tak berharap, tak mencintai,
tak bisa bertahan

lagi

Mungkin kau takkan bisa tidur,
karena pikiranmu menerawang
Kau enggan makan
karena jiwamu berperang

Sesaat kau tak seperti hidup,
Sesaat pula duniamu hampa

Hingga kau bangkit mencari,
lalu aku datang berlari
Membenarkan kerah bajumu
dan saling tersenyum di setiap paginya
Hati keduanya..








Oleh Euros Cum admin baru di Pustaka Mimpi, selamat menimati tulisan saya ^_^
Pertama kali diposting di kesukma.blogspot.com 

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.