Skip to main content

Rencana


https://www.instagram.com/p/BXQRAh0FL-1/

Langit yang menggelap meninggalkan jejak perjuangan. Bintang bertebaran bersama dengan seluruh kenangan. Dan rembulan sempurna bulat di atas sana memanjakan. Untuk setiap raga yang lelah sepanjang mentari muncul, malam akan selalu menjadi hal yang selalu dinantikan. Sempurna membawa keluh bersama dengan kesah.

Menanti mentari tenggelam di ufuk barat.
Menanti rembulan yang hadir menggantikannya.
Hai… Bukan kah hidup selalu tentang penantian. Bahkan bagi mereka yang terus berjalan, bagi mereka yang terus berjuang, bagi mereka yang bahkan hanya berdiam diri. Berharap keajaiban datang dengan sendirinya.
Hai kawan? Bagaimana kabar semua mimpimu? Mimpi tentang tempat yang lebih baik, mimpi tentang menjadi sosok manusia. Mimpi tentang menjadi pengabdi. Tentu setiap orang memiliki mimpi. Tekad. Ketetapan hati. Angan. Asa. Bagaimana pun mereka menyebutnya, itu semua masih satu substansi dengan apa yang orang lain lakukan.
Tak ingin menyesal dengan perjuangan yang kita lakukan saat ini.
Lantas apa itu penantian? Bagaimana penantian itu? Untuk apa semua penantian ini?
Bukan kah semua pertanyaan itu sering kali muncul. Bersama dengan semua lelah dan peluh yang jatuh membasahi bumi pertiwi. Semua itu tergantung alasan kau untuk bergerak. Alasanmu untuk melangkah. Tentu setiap orang memiliki alasannya masing-masing. Lalu bagiku, penantian adalah melakukan semua hal dengan tindakan dan keputusan terbaik. Berusaha untuk tidak pernah meneysal dengan resiko dari pilihan tersebut. Bukankah sudah kubilang, semesta hanya ingin melihat manusia yang berjuang bukan hasil yang akhir yang mereka dapatkan?
Lantas untuk apa semua penantian itu? Setidaknya hal itu membantu kita untuk tetap hidup. Percaya pada setiap pagi yang membawa harapan baru. Percaya pada setiap bintang di malam hari bersama dengan semua harapan.
Menanti memang akan sangat menyebalkan. Tidak sedikit orang yang bahkan membencinya. Akan tetapi, atas dasar hak apa kau membencinya? Allah tak selalu memberikan apa yang kita meinta dengan instan. Setidaknya biarkan peluh tidak hanya membasahi raga tapi juga jiwa. Hati yang tetap tak goyah bersama dengan semua angan dan asa. Akal yang tetap menenangkan bahwa semua akan terjawab.
Kalau tidak? Berarti memang demikian lah rencana semesta. Namun terkadang prasangka lebih kuat dibanding kesabaran. Membuat kita lelah, sempurna jatuh dan putus asa. Namun bagiku, mencoba berpikir bahwa apa yang kita lihat bukan lah hasil dari apa yang kita dapat adalah cara terbaik untuk menghibur diri. Bukan maksud tidak bersyukur dengan apa yang kita dapat, hanya ingin menunjukan kepada-Nya bahwa aku masih belum menyerah dan tetap percaya pada ketetapan-Nya.
Untuk kau yang masih dalam penantian, percayalah pada dirimu bahwa kau masih memiliki kesempatan  yang sama dengan orang lain. Kesempatan untuk berubah. Kesempatan untuk memperbaiki. Kesempatan untuk hidup dan terus bangkit kembali. Berhenti berpikir bahwa semua tidak mungkin.
Berhenti berprasangka bahwa semesta tidak menghendaki niat baikmu. Selalu ada kesulitan yang akan dihadapi. Baik itu dari orang lain atau diri sendiri. Namun itu semua adalah letak indah nya dari sebuah penantin. Dimana pada akhirnya kau mampu mengambil hikmah, dan menjadikannya bukti bahwa Allah tidak pernah menahan kehendakmu.
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal; 1. Allah akan segera mengabulkan do’anya, 2. Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan 3. Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kamu akan memperbanyak berdo’a.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata,: Allah nanti yang memperbanyak do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa’id; derajat hasan)

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.