Skip to main content

Aku, Cinta, Dan Semesta

Source: https://www.popsugar.com/love/Learning-Love-Yourself-39143541
Pagi. Mentari yang datang bersama dengan cahaya lembutnya selalu berhasil memberikan ketenangan. Bersama dengan udara sejuk yang membungkus, setidaknya berhasil membuatku lepas dari penatnya kenangan. Apa kau pernah berpikir, begitu bangganya sang mentari datang? Bangganya kabut pagi yang menyelimuti, menahan pandangan. Bangganya embun yang jatuh dari ujung daun, menyegarkan.

Pernah kah berpikir, bahwa diri kita luar biasa? Berpikir betapa tingginya harga diri kita sebagai manusia? Tidak, kalimat ini tidak sama sekali menunjukan keangkuhan, hanya saja tidak sedikit dan tidak jarang pula kita membatasi diri dengan pikiran kecil yang ada. Menahan setiap inci langkah baik yang akan kita lakukan.
Pernah kah kau mendengar bahwa setan pun bisa berkata benar? Hanya saja ada sedikit lanjutan dari kalimat tersebut yang perlu kau cerna. Terdapat sebuah kebenaran dari perkataannya, hanya saja diiringi dengan seribu kebohongan. Menarik bukan, sayangnya kita masih terbuai olehnya. Bahkan terkadang sempat berpikir, mana yang sebuah kebenaran dan mana yang kebohongan. Cukup sulit untuk mempercayai itu semua.
Maka kusimpulkan. Mengapa tidak melakukannya terlebih dahulu, sambil berpikir resiko mana yang mampu kita tanggung. Yang dituntut semesta bukan lah hasil, yang mereka inginkan hanya sejauh mana kita berjuang. Apa kau tau apa itu berjuang? Bagiku, berjuang adalah sejauh mana diri kita dapat mempercayai diri sendiri. Sejauh apa kita mampu mencintai diri kita sendiri.
Hidup memang tidak selalu tentang diri kita sendiri, hanya saja membiarkan kita memanjakan diri sendiri sesekali, apa itu hal yang salah. Bagaimana dengan mereka yang menjadi relawan? Membantu sesama? Hei... Mereka pun tengah memuaskan diri mereka. Memuaskan hati mereka. Bukankah kebahagaiaan bagi setiap orang itu berbeda.
Ada yang merasa bahagia dengan memiliki harta, ada yang merasa bahagia dengan memiliki kekasih, ada yang bahagia dengan pangkat yang mereka dapat, dan ada pula dengan bahagia dengan semua yang mereka miliki saat ini. Menarik bukan? Betapa fleksibel nya kita mengartikan bahagia.
Dan bagaimana dengan kita? Yah kita yang masih belum menemukan bahagianya. Menurutku hanya satu yang bisa dilakukan. Silahkan berjuang sampai akhirnya kau mendapat porsi yang semesta tentukan untukmu. Silahkan cintai dirimu. Silahkan nikmati setiap langkahmu. Tak perlu memaksakan kehendak untuk seperti orang lain. Toh, masing-masing memiliki jalannya sendiri. Dan juga, hal itu menjadi tanda bahwa kau mencintai dirimu. Mencintai seluruh kekurangan dan kelebihanmu.
Lantas, apa mencintai diri sendiri itu salah? Nampaknya, aku pun tak bisa menyalahkan atau membenarkan. Kau hanya mencoba menjalani hidup dengan yang kau miliki, bukan kah itu sebagai pentuk pasrahmu pada semesta. Hanya saja ada beberapa hak lain yang mesti kau perhatikan, seperti kau harus mencintai alam. Di sisi lain, bagiku sama hal nya kau bersyukur pada Sang Pencipta atas segala yang sudah kau dapat.
Tapi terkadang membandingkan diri juga penting. Membandingkan ke bawah untuk senantiasa meningkatkan rasa syukurmu, membandingkan ke atas sebagai pecutan diri bahwa kau masih harus berjuang.
          Silahkan rangkai seluruh angan dan mimpimu. Bersama dengan semua tekad. Semoga Allah dan semesta senantiasa meridhoinya.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.