Skip to main content

Selamat Pagi Rindu (Chpt.2)


Entah kenapa semua urusan ini menjadi amat sangat membingungkan. Setelah Bang Ahmad mengundangku untuk datang ke kampus, hamper semalam suntuk mata ini tak bisa terlelap. Terlalu banyak hal dikhawatirkan. Bukan tentang pakaian yang harus dikenakan, lagi pula aku harus bersikap senormal mungkin untuk tidak terlihat seperti merencanakan pertemuan dengannya.

Khawatir tentang bagaimana apabila aku benar-benar bertemu dengannya? Apa dia akan bahagia melihatku? Atau sebaliknya? Semua kekhawatiran itu sempurna mengisi setiap sisi pikiran, sampai pada akhirnya mengantarku terlelap.
Hingga akhirnya pagi datang. Aku siap.
“Lo hari ini jadi ke kampus Rizky?” Tanya Tika di saat dosen tengah menjelaskan materi.
“Jadi dong.” Bisikku dengan bangga.
“Sama siapa?” tanya Tika lagi.
“Sendiri! Lagian nanti gua juga ketemu Bang Ahmad di kampusnya dia.”
“Oh Bang Ahmad yang ngajak lo?”
“Iya! Kenapa?”
“Gapapa sih. Gua kira lu nekat ke kampusnya Rizky cuma mau ketemu dia”
“Tadinya sih gitu! Tapi karena Bang Ahmad ngajakin gua jadinya sekalian.”
“Kalo lu bener ketemu Rizky bagi-bagi ke gue ya.”
“Maksud lo?” Ketusku.
“Fotoin lah! Gua pengen tau aja si Rizky itu gimana.”
“Naksir Rizky awas ya lo!”
“Yee engga lah, gua kan udah punya Indra.”
“Hmm iya deh yang udah punya pasangan mah beda.”
“Sttt” suara Ila untuk menyuruh kami untuk diam.
Saat ini jam menunjukkan pukul 13:50 yang artinya 10 menit lagi kelas akan berakhir.
“Oke! Sekian untuk hari ini! Jika ada hal yang ingin ditanyakan atau yang belum jelas boleh tanya saya di ruang dosen. Sekian Terimakasih!” Salam penutup Pak Hari selaku dosen metodologi penelitian ku
“Oh ya! Tika dan Rahmah harap ke ruang bapak setelah ini.” Ujarnya lagi yang membuatku amat terkejut
Ketika Pak Hari menyebut nama kami, kami hanya bisa betatap muka sambil  kebingungan.
“Lo berdua sih berisik! Di panggil ke ruang dosen kan.” Ujar Ila.
“Lo sih ngajak ngobrol gua!” Ucapku menyalahkan Tika.
“Kok gue sih!”
“Emang bener gara-gara lo kita dipanggil ke ruang dosen kan! Karena lo juga nih gua jadi telat ke kampus Rizky!”
“Kok jadi gua yang disalahin? Gua Cuma nanya doang! Kalo lo ga jawab juga ga akan panjang obrolannya”
“Intinya semua ini karena salah  lo! Awas ya lo kalo ada apa-apa.”
“Kok kalian malah saling nyalahin sih? Udah sana ke ruang dosen temuin Pak Hari! Kalo saling nyalahin gini lo makin lama buat ke kampus nya Rizky” kata Ila yang mencoba menenangkan kami.
Akhirnya aku dan Tika pun pergi menuju ruang dosen. Selama di perjalanan kami hanya diam.
“Hari ini saya ada keperluan lain. Tolong ya kalian ke Sekolah SMA Mawar Indah untuk ambil data siswa disana! Saya sedang ada penelitian di Sekolah tersebut. Tapi hari ini saya tidak bisa. Jadi saya minta tolong ke kalian untuk membantu saya di penelitian ini!” Pinta Pak Hari saat kami menemuinya di ruang dosen
“Tapi Pak.....“ Sela ku.
“Sudah ya saya tinggal! Ini berkasnya sudah saya urus semua, kalian tinggal ambil data aja. Anggap saja kalian sedang latihan untuk skripsi.”
“Baik pak” ucap kami dengan setengah hati.
“Saya tinggal ya!” Pak Hari pun meninggalkan mejanya dan pergi begitu saja.
Aku dan Tika juga meninggalkan ruang dosen dan pergi menuju parkiran.
“Gua minta maaf ya!” kata Tika.
“Yaudah lah udah terlanjur gini, gua juga yang salah kok.”
“Tapi tetep aja gua yang salah! Gua minta maaf”
“Iya gua maafin”
“Lo ke kampus Rizky aja, biar gua yang pergi sendiri ke sana”
Tentu aku bahagia mendengar tawarannya, tapi disisi lain aku tidak tega melihat Tika yang mengambil data ratusan orang seorang diri.
“Engga Tik! Ini tugas bersama. Kita kerjain bareng ya.” Ucapku.
“Terus lo gimana? Udah janjian kan sama Bang Ahmad?”
“Nanti gua kasih penjelasan ke Bang Ahmad kalo gua telat kesana.”
“Oh iya udah”
Kami pun segera pergi menuju SMA Mawar Indah yang berjarak tidak jauh dari kampus.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Tapi tugas kami belum kunjung selesai.
Aku yang dari tadi mulai tidak tenang, hanya bisa melihat jam dinding berharap waktu tak berlalu cepat.
    “Finish!” sorak Tika mengagetkanku.
“Udah selesai Tik?
“Udah dong.”
“Gua Cabut duluan boleh engga? Gua gak enak sama Bang Ahmad dari tadi telepon gua mulu.”
“Iya ngga apa-apa lo pergi aja! Biar gua yg nyerahin ke Pak Hari Besok”
“Thanks ya Tik.”
Aku pun langsung membereskan barang bawaanku dan bergegas untuk pergi.
Sudah satu jam aku dalam perjalanan menuju kampus Rizky. Keramaian sempurna memenuhi jalan. Karena kampusnya adalah salah satu kampus terbesar di kota ini, sudah wajar akan begitu jalan akan menjadi cukup padat.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Aku sudah mulai tidak tenang karena harapan untuk bertemu dengan Rizky semakin menipis.
Akhirnya aku pun sampai di kampusnya dan sesegera aku menemui Bang Ahmad di tempat yag sudah di janjikan.
“Bang” Sapaku.
“Hai Rahmah.” Sapa Bang Ahmad.
“Maaf ya bang gua telat banget parah gini”
“Iya gapapa santai, Gua juga ada rapat malem ini.”
“Kenapa Bang suruh gua ke kampus lu?”
“Lah? Bukannya lu yang pengen ke kampus gua?”
“Ehh? Kok gitu?” Balasku kebingungan
“Dari kemaren kan lu yang bilang kapan gua ada waktu di kampus? Nah sekarang gua ada waktunya”
“Iya juga sih”
“Kenapa? Lu kangen gua? Hahaha” Candanya
“Yeh! Mulai dah lu jailnya.”
“Oh iya! Lu punya kenalan Band kan?”
“Iya bang ada temen gua anak Band. Kenapa?”
“Minggu depan jurusan gua ada acara diesnatalis gitu. Nah gua mau minta tolong bilangin ke temen lu buat ngisi acara di kampus gua”
“Oh gitu! Ya udah nanti gua bilangin orangnya”
“Kalo bisa besok orangnya kesini buat ngomongin lebih jelasnya”
“Yaudah nanti gua kabarin mereka yah.”
“Ya udah besok lu ke kampus gua lagi ya.”
“Lah kok gua? Ngapain?”
“Ya ngga apa-apa sih main aja”
Senang tentu mendengar tawaran untuk berkunjung kembali, yang berarti aku memiliki kesempatan lain untuk bertemu dengan Rizky.
Sudah 1 jam aku duduk di lorong dekat lapangan kampus. Tapi sampai detik ini aku tidak melihat keberadaan Rizky
“Kok gua perhatiin lu dari tadi celingak celinguk? Nyari siapa?” Tanya Bang Ahmad yang mulai curiga dengan gelagat aneh yang kutunjukan.
“Bukan Siapa-siapa bang.” Jawabku yang masih lihat sekitar
“Ada yang lo taksir ya dikampus ini?” Tebak Bang Ahmad
“Engga kok bang.”
“Bohong! Pasti lo ada tujuan lain kan buat ke kampus ini?”
“Engga ban, beneran deh.”
“Bohong banget lo! Gua udah kenal lo 3 tahun dan gua tau kalo lo lagi merindukan seseorang”
“Masa sih bang?”
“Lo lagi cari si Rizky?”
“Eh? Kok abang...”
“Udah 2 tahun berlalu lo masih ngarepin si Rizky?”
“Abang tau dia kuliah dikampus ini juga?”
“Tau lah! Tiap hari gua ketemu dia mulu”
“Serius bang?”
Bang Ahmad hanya mengangguk.
“Terus dia sekarang gimana?”
“Tuh kan, lo kalo udah penasaran sama si Rizky begini kaya reporter ga abis-abis pertanyaannya.”
“Ya maaf.”     
“Yaudah besok lo dateng aja ke kampus gua. Tapi datengnya pagi kalo mau ketemu dia.” Saran Bang Ahmad
“Emang besok ada apa?”
“Besok gua ada Rapat sama HIMA fakultas dia. Dia sekarang organisator”
“Iya bang gua usahain”
“Sekalian ajak temen lo yang anak Band”
“Iya bang siap!”
Matahari mulai meinggalkan hari.  Tersisa warna jingga indah di atas langit. Memberikan kehangatan tiada dua. Langit mulai gelap, yang berarti aku pun harus bergegas untuk pulang.
Walau pun tak jumpa denganmu, satu lagi harapan untuk bias bertemu sudah cukup untuk menjadi setitik harapan di balik awan. Memandang indah gelap bersama titik-titik cahaya yang memenuhi langit.
Semoga kita lekas bertemu.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.