Entah kenapa semua urusan
ini menjadi amat sangat membingungkan. Setelah Bang Ahmad mengundangku untuk
datang ke kampus, hamper semalam suntuk mata ini tak bisa
terlelap. Terlalu banyak hal dikhawatirkan. Bukan tentang pakaian yang harus
dikenakan, lagi pula aku harus bersikap senormal mungkin untuk tidak terlihat
seperti merencanakan pertemuan dengannya.
Khawatir
tentang bagaimana apabila aku benar-benar bertemu dengannya? Apa dia akan
bahagia melihatku? Atau sebaliknya? Semua kekhawatiran itu sempurna mengisi
setiap sisi pikiran, sampai pada akhirnya mengantarku terlelap.
Hingga
akhirnya pagi datang. Aku siap.
“Lo
hari ini jadi ke kampus Rizky?” Tanya Tika di saat dosen tengah menjelaskan
materi.
“Jadi
dong.” Bisikku dengan bangga.
“Sama
siapa?” tanya Tika lagi.
“Sendiri!
Lagian nanti gua juga ketemu Bang Ahmad di kampusnya dia.”
“Oh
Bang Ahmad yang ngajak lo?”
“Iya!
Kenapa?”
“Gapapa
sih. Gua kira lu nekat ke kampusnya Rizky cuma mau ketemu dia”
“Tadinya
sih gitu! Tapi karena Bang Ahmad ngajakin gua jadinya sekalian.”
“Kalo
lu bener ketemu Rizky bagi-bagi ke gue ya.”
“Maksud
lo?” Ketusku.
“Fotoin
lah! Gua pengen tau aja si Rizky itu gimana.”
“Naksir
Rizky awas ya lo!”
“Yee
engga lah, gua kan udah punya Indra.”
“Hmm
iya deh yang udah punya pasangan mah beda.”
“Sttt”
suara Ila untuk menyuruh kami untuk diam.
Saat
ini jam menunjukkan pukul 13:50 yang artinya 10 menit lagi kelas akan berakhir.
“Oke!
Sekian untuk hari ini! Jika ada hal yang ingin ditanyakan atau yang belum jelas
boleh tanya saya di ruang dosen. Sekian Terimakasih!” Salam penutup Pak Hari
selaku dosen metodologi penelitian ku
“Oh
ya! Tika dan Rahmah harap ke ruang bapak setelah ini.” Ujarnya lagi yang
membuatku amat terkejut
Ketika
Pak Hari menyebut nama kami, kami hanya bisa betatap muka sambil kebingungan.
“Lo
berdua sih berisik! Di panggil ke ruang dosen kan.” Ujar Ila.
“Lo
sih ngajak ngobrol gua!” Ucapku menyalahkan Tika.
“Kok
gue sih!”
“Emang
bener gara-gara lo kita dipanggil ke ruang dosen kan! Karena lo juga nih gua
jadi telat ke kampus Rizky!”
“Kok
jadi gua yang disalahin? Gua Cuma nanya doang! Kalo lo ga jawab juga ga akan
panjang obrolannya”
“Intinya
semua ini karena salah lo! Awas ya lo
kalo ada apa-apa.”
“Kok
kalian malah saling nyalahin sih? Udah sana ke ruang dosen temuin Pak Hari!
Kalo saling nyalahin gini lo makin lama buat ke kampus nya Rizky” kata Ila yang
mencoba menenangkan kami.
Akhirnya
aku dan Tika pun pergi menuju ruang dosen. Selama di perjalanan kami hanya
diam.
“Hari
ini saya ada keperluan lain. Tolong ya kalian ke Sekolah SMA Mawar Indah untuk
ambil data siswa disana! Saya sedang ada penelitian di Sekolah tersebut. Tapi
hari ini saya tidak bisa. Jadi saya minta tolong ke kalian untuk membantu saya
di penelitian ini!” Pinta Pak Hari saat kami menemuinya di ruang dosen
“Tapi
Pak.....“ Sela ku.
“Sudah
ya saya tinggal! Ini berkasnya sudah saya urus semua, kalian tinggal ambil data
aja. Anggap saja kalian sedang latihan untuk skripsi.”
“Baik
pak” ucap kami dengan setengah hati.
“Saya
tinggal ya!” Pak Hari pun meninggalkan mejanya dan pergi begitu saja.
Aku
dan Tika juga meninggalkan ruang dosen dan pergi menuju parkiran.
“Gua
minta maaf ya!” kata Tika.
“Yaudah
lah udah terlanjur gini, gua juga yang salah kok.”
“Tapi
tetep aja gua yang salah! Gua minta maaf”
“Iya
gua maafin”
“Lo
ke kampus Rizky aja, biar gua yang pergi sendiri ke sana”
Tentu aku bahagia mendengar
tawarannya, tapi disisi lain aku tidak tega melihat Tika yang
mengambil data ratusan orang seorang diri.
“Engga
Tik! Ini tugas bersama. Kita kerjain bareng ya.” Ucapku.
“Terus
lo gimana? Udah janjian kan sama Bang Ahmad?”
“Nanti
gua kasih penjelasan ke Bang Ahmad kalo gua telat kesana.”
“Oh
iya udah”
Kami
pun segera pergi
menuju SMA Mawar Indah yang berjarak tidak jauh dari kampus.
Jam
sudah menunjukkan pukul 4 sore. Tapi tugas kami belum kunjung selesai.
Aku
yang dari tadi mulai tidak tenang, hanya bisa melihat jam dinding berharap
waktu tak berlalu cepat.
“Finish!” sorak Tika mengagetkanku.
“Udah
selesai Tik?
“Udah
dong.”
“Gua
Cabut duluan boleh engga? Gua gak
enak sama Bang Ahmad dari tadi telepon gua mulu.”
“Iya
ngga apa-apa
lo pergi aja! Biar gua yg nyerahin ke Pak Hari Besok”
“Thanks
ya Tik.”
Aku
pun langsung membereskan barang bawaanku dan bergegas untuk pergi.
Sudah
satu jam aku dalam perjalanan menuju kampus Rizky. Keramaian sempurna memenuhi jalan. Karena kampusnya
adalah salah satu kampus terbesar di kota ini, sudah wajar akan begitu jalan
akan menjadi cukup padat.
Kini
jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Aku sudah mulai tidak tenang karena harapan
untuk bertemu dengan Rizky semakin menipis.
Akhirnya
aku pun sampai di kampusnya dan sesegera aku menemui Bang Ahmad di tempat yag
sudah di janjikan.
“Bang”
Sapaku.
“Hai
Rahmah.”
Sapa
Bang Ahmad.
“Maaf
ya bang gua telat banget parah gini”
“Iya
gapapa santai, Gua juga ada rapat malem ini.”
“Kenapa
Bang suruh gua ke kampus lu?”
“Lah?
Bukannya lu yang pengen ke kampus gua?”
“Ehh?
Kok gitu?” Balasku kebingungan
“Dari
kemaren kan lu yang bilang kapan gua ada waktu di kampus? Nah sekarang gua ada
waktunya”
“Iya
juga sih”
“Kenapa?
Lu kangen gua? Hahaha” Candanya
“Yeh!
Mulai dah lu jailnya.”
“Oh
iya! Lu punya kenalan Band kan?”
“Iya
bang ada temen gua anak Band. Kenapa?”
“Minggu
depan jurusan gua ada acara diesnatalis gitu. Nah gua mau minta tolong bilangin
ke temen lu buat ngisi acara di kampus gua”
“Oh
gitu! Ya udah nanti gua bilangin orangnya”
“Kalo
bisa besok orangnya kesini buat ngomongin lebih jelasnya”
“Yaudah nanti gua kabarin mereka yah.”
“Ya
udah besok lu ke kampus gua lagi ya.”
“Lah
kok gua? Ngapain?”
“Ya
ngga apa-apa
sih main aja”
Senang tentu mendengar
tawaran untuk berkunjung kembali, yang berarti aku memiliki kesempatan lain untuk
bertemu dengan Rizky.
Sudah
1 jam aku duduk di lorong dekat lapangan kampus. Tapi sampai detik ini aku
tidak melihat keberadaan Rizky
“Kok
gua perhatiin lu dari tadi celingak celinguk? Nyari siapa?” Tanya Bang Ahmad yang mulai curiga dengan gelagat aneh yang kutunjukan.
“Bukan
Siapa-siapa bang.”
Jawabku
yang masih lihat sekitar
“Ada
yang lo taksir ya dikampus ini?” Tebak
Bang Ahmad
“Engga
kok bang.”
“Bohong!
Pasti lo ada tujuan lain kan buat ke kampus ini?”
“Engga
ban, beneran deh.”
“Bohong
banget lo! Gua udah kenal lo 3 tahun dan gua tau kalo lo lagi merindukan
seseorang”
“Masa
sih bang?”
“Lo
lagi cari si Rizky?”
“Eh?
Kok abang...”
“Udah
2 tahun berlalu lo masih ngarepin si Rizky?”
“Abang
tau dia kuliah dikampus ini juga?”
“Tau
lah! Tiap hari gua ketemu dia mulu”
“Serius
bang?”
Bang
Ahmad hanya mengangguk.
“Terus
dia sekarang gimana?”
“Tuh kan, lo kalo udah penasaran sama si
Rizky begini kaya reporter ga abis-abis pertanyaannya.”
“Ya maaf.”
“Yaudah
besok lo dateng aja ke kampus gua. Tapi datengnya pagi kalo mau ketemu dia.” Saran Bang Ahmad
“Emang
besok ada apa?”
“Besok
gua ada Rapat sama HIMA fakultas
dia. Dia sekarang organisator”
“Iya
bang gua usahain”
“Sekalian
ajak temen lo yang anak Band”
“Iya
bang siap!”
Matahari mulai meinggalkan
hari. Tersisa warna jingga indah di atas
langit. Memberikan kehangatan tiada dua. Langit mulai gelap, yang berarti aku
pun harus bergegas untuk pulang.
Walau pun tak jumpa
denganmu, satu lagi harapan untuk bias bertemu sudah cukup untuk menjadi setitik
harapan di balik awan. Memandang indah gelap bersama titik-titik cahaya yang
memenuhi langit.
Semoga kita lekas bertemu.

Comments
Post a Comment