Skip to main content

Perempuan Bernama Kejujuran



Sebenarnya, waktu pertama kali melihat kamu itu biasa saja. Seperti perjumpaan pada pertama dengan yang lainnya, tentu tidak mungkin akan muncul perasaan bernama cinta. Tak ada cinta dalam pandangan pertama, dan itu kenyataanya. Semua rasa itu lahir dari proses, dan bukan sekedar pandangan angan semata. Semua butuh perjuangan, keringat dan asa yang selalu ditempa. Dan, begitulah perasaanku saat pertama kali melihat kamu. Rupamu, sikapmu, bahkan keseluruhan tentang kamu tidak sama sekali aku pikirkan dalam hatiku. Karena, semuanya biasa-biasa saja dan semu.

Tapi perasaan itu sebenarnya akan tumbuh perlahan, bukan? Ia menjelma dalam mimpi, merasuk dalam pikiran, lalu ia menelusuk sukma dengan perlahan. Ya, dan kau berhasil sangat untuk menaklukanku perihal perasaan. Dimulai dari percakapan singkat saat perkumpulan, lalu berlanjut di chattingan. Semua terjadi begitu saja, tanpa sedikit terbersit dalam pikiran. Aku tak pernah merencanakan. Namun, hati kadang bergerak tanpa kemauan, bukan? Aku mengetahui ini justru saat kita memulai aktivitas bersama di antah berantah, jauh dari keramaian. Dan, aku mulai mengakui memang ini sudah membuatk aku tidak tertahankan. Aku ingin memilkimu, menjalin kisah denganmu, menikahimu hingga aku bisa memelukmu dalam syahdu yang bukan lagi sekadar angan.

Namun, apa dayaku untuk memilkimu? Aku hanyalah lelaki biasa, yang bahkan seujung kuku tidak pantas untuk sekadar memujimu. Aku tahu diri, kau adalah bangsawan menawan dan aku hanya seorang fakir yang tak tahu malu. Namun, aku tidak bisa untuk menyimpan perasaan ini, sebelum akhirnya kau tahu. Meski malu, aku tetap beranikan diri untuk berkata cinta padamu. Walaupun, pada akhirnya aku mengetahui ini akan hanya berujung nestapa, lagi pilu. Ah, andai aku adalah emas yang gemerlap, aku mungkin akan mempercantik jari indahmu. Puan, aku bukanlah Muhammad yang sempuna, namun aku tahu rasa ini adalah kesempurnaan dalam hidupku. Kau pemicunya, dan tak ada dusta terbersit untuk dalam kalimat itu.

Dan, demi setiap paragraf dalam tulisan yang aku tuang atas kegundahanku. Aku memintamu, dalam hidupku yang fana ini, dan tentu untuk keabadiaanmu dalam anganku. Aku mohon, berbahagialah. Meski aku tak mampu memilkimu, ingatlah bahwa lelaki ini pernah menaruh rasa padamu. Dan, jangan kau sesalkan barang setitik pun. Aku bahagia karena pernah menyukaimu, dan tak ada sesal pernah menjadikanmu alasan rinduku. Jatuh cinta adalah takdri, itu kata seorang Budayawan Sudjiwo Tejo, dan aku mengamini itu. Kau yang pernah menjadi alasanku menuai lara, menjadikan aku gundah dalam tapak kaki yang entah kemana, dan menjadi tawaku karena senyumanmu. Ya, aku mengamini itu. Kau adalah takdirku, namun belum menjadi nasibku untuk kuajak berkelana separuh duniaku.

Seperti namamu, setidaknya aku sudah jujur padamu.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.