Skip to main content

Laraku

Source: http://www.autumnmiles.com/

Malam.
Kembali bersama catatan remaja tanggung yang masih meratapi malam. Menikmati kesendirian. Bukan, mungkin lebih tepatnya, terpaksa untuk memaknai kesendirian karena, kali ini aku benar-benar sendiri. Ya, aku sendiri saat ini. Karena kau tak lagi di sisi. Karena senyum mu tak lagi untuk diri.
Kau tau? Sepi nya malam bersama dengan mengukir senyum mu di langit-langit kamar. Semua kenangan yang berputar sempurna bak film yang berputar. Kembali membuka luka. Kembali terhanyut dalam emosi.
Untuk tau kau bahagia bersama dengan orang lain sangat sulit bagiku. Untuk berhenti mengkhawatirkanmu adalah hal sulit untuk dilakukan. Untuk berhenti peduli dan berhenti memikirkanmu adalah perkara sulit.
Kau tau? Mengingat saat pertama kali kau menangis untuk kepergian yang tak pernah terjadi itu. Malam sempurna gelap dan kusampaikan rencana untuk kepergian yang jauh. Kepergian yang akan memakan waktu lama. Untuk melihat air mata itu aku benar-benar sempurna telah jatuh hati. Untuk melihat air mata yang lain, aku sempurna yakin kau adalah harapanku. Untuk melihat kau yang menangis karena keluhku, sempurna membuatku percaya bahwa kau benar-benar mengerti.
Untuk semua yang telah kulakukan, aku tak pernah ingin untuk menganggapnya sebagai perjuangan. Bukan kah mereka bilang cinta itu bukan perjuangan, melainkan perjuangan itu sendiri adalah cinta. Perjuangan yang bahkan diri ini tak pernah mengaggapnya sebagai sebuah pengorbanan.
Tapi untuk saat ini, bersediakah kau mendengar seluruh lara ini. Mendengar seluruh keluh untuk terakhir kalinya.
Kusampaikan, bukan maksud hati untuk memojokanmu. Tetapi untuk waktu yang tidaklah sebentar yang telah kita lalui. Ini semua bukan hal mudah. Kukira dengan semua yang kulakukan cukup untuk membuatmu bertahan. Cukup untuk membuatmu yakin bahwa aku adalah harapanmu. Sama sepertiku yang mempercayaimu sebagai harapanku. Mempercayaimu bahwa kau lah rencana Tuhan yang amat indah.
Tetapi kau tau? Semua itu sempurna membuatku menjadi satu-satunya pria yang selalu kau andalkan. Menjadi pria yang selalu kau harapkan. Menjadi pria yang selalu kau impikan. Sebelumnya, terima kasih untuk semua hal indah yang sudah kau lakukan sepanjang waktu kita bersama. Untuk semua senyum dan tangis itu. Untuk semua bahagia dan khawatir itu. Untuk semua angan dan nestapa yang kau berikan.
Untukmu yang mulai berjalan sendiri untuk memulai hari. Izinkanku untuk menyampaikan salam rindu padamu. Semoga kau mampu menemukan bahagiamu. Maafkan aku atas segala luka dan kecewa. Maafkan karena semua khawatirku menganggu.
Yang kumaksud untukmu adalah hal yang baik. Dimana aku benar-benar menaruh semua kekhawatiranku. Dimana aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Dimana aku tidak ingin ada orang lain yang melukaimu.
’Mengajak kepada kebaikan adalah baik. Tapi memaksakan pada orang lain sesuatu yang kita anggap baik adalah tidak baik’.-KH. A. Musthofa Bisri.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.