Kembali bersama catatan remaja tanggung
yang masih meratapi malam. Menikmati kesendirian. Bukan, mungkin lebih
tepatnya, terpaksa untuk memaknai kesendirian karena, kali ini aku benar-benar
sendiri. Ya, aku sendiri saat ini. Karena kau tak lagi di sisi. Karena senyum
mu tak lagi untuk diri.
Kau tau? Sepi nya malam bersama dengan
mengukir senyum mu di langit-langit kamar. Semua kenangan yang berputar
sempurna bak film yang berputar. Kembali membuka luka. Kembali terhanyut dalam
emosi.
Untuk tau kau bahagia bersama dengan
orang lain sangat sulit bagiku. Untuk berhenti mengkhawatirkanmu adalah hal
sulit untuk dilakukan. Untuk berhenti peduli dan berhenti memikirkanmu adalah
perkara sulit.
Kau tau? Mengingat saat pertama kali kau
menangis untuk kepergian yang tak pernah terjadi itu. Malam sempurna gelap dan
kusampaikan rencana untuk kepergian yang jauh. Kepergian yang akan memakan
waktu lama. Untuk melihat air mata itu aku benar-benar sempurna telah jatuh
hati. Untuk melihat air mata yang lain, aku sempurna yakin kau adalah
harapanku. Untuk melihat kau yang menangis karena keluhku, sempurna membuatku
percaya bahwa kau benar-benar mengerti.
Untuk semua yang telah kulakukan, aku
tak pernah ingin untuk menganggapnya sebagai perjuangan. Bukan kah mereka
bilang cinta itu bukan perjuangan, melainkan perjuangan itu sendiri adalah
cinta. Perjuangan yang bahkan diri ini tak pernah mengaggapnya sebagai sebuah
pengorbanan.
Tapi untuk saat ini, bersediakah kau
mendengar seluruh lara ini. Mendengar seluruh keluh untuk terakhir kalinya.
Kusampaikan, bukan maksud hati untuk
memojokanmu. Tetapi untuk waktu yang tidaklah sebentar yang telah kita lalui. Ini
semua bukan hal mudah. Kukira dengan semua yang kulakukan cukup untuk membuatmu
bertahan. Cukup untuk membuatmu yakin bahwa aku adalah harapanmu. Sama sepertiku
yang mempercayaimu sebagai harapanku. Mempercayaimu bahwa kau lah rencana Tuhan
yang amat indah.
Tetapi kau tau? Semua itu sempurna
membuatku menjadi satu-satunya pria yang selalu kau andalkan. Menjadi pria yang
selalu kau harapkan. Menjadi pria yang selalu kau impikan. Sebelumnya, terima
kasih untuk semua hal indah yang sudah kau lakukan sepanjang waktu kita
bersama. Untuk semua senyum dan tangis itu. Untuk semua bahagia dan khawatir
itu. Untuk semua angan dan nestapa yang kau berikan.
Untukmu yang mulai berjalan sendiri
untuk memulai hari. Izinkanku untuk menyampaikan salam rindu padamu. Semoga kau
mampu menemukan bahagiamu. Maafkan aku atas segala luka dan kecewa. Maafkan
karena semua khawatirku menganggu.
Yang kumaksud untukmu adalah hal yang
baik. Dimana aku benar-benar menaruh semua kekhawatiranku. Dimana aku tidak
ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Dimana aku tidak ingin ada orang lain
yang melukaimu.
’Mengajak
kepada kebaikan adalah baik. Tapi memaksakan pada orang lain sesuatu yang kita
anggap baik adalah tidak baik’.-KH. A. Musthofa Bisri.

Comments
Post a Comment