Skip to main content

Angan Dan Harapan


Malam kembali datang bersama dengan alunan kenangan. Angin berhembus dengan tenang. Membawa melodi sebuah keindahan. Bersemu kembali semua angan. Masih selalu ada cerita lama dan tawa. Semua masih tersimpan sedih saat kau tak ada. Semua hal itu akan tetap aku rindukan. Tak ada alasan bagiku untuk membenci semua hal itu, bukan kah kita pernah benar-benar menikmati semua waktu itu!?

Bagaimana kabarmu? Kau tau, semua rindu ini benar-benar menyiksa. Rindu duduk bersama denganmu. Banyak bercerita tentang diri masing-masing. Menikmati alunan waktu yang tak terasa berlalu dengan cukup cepat. Menikmati setiap simpul senyum yang kau berikan. Memandang indah setiap tawa yang kau ciptakan.
Sempurna sudah semua masa itu bagiku.
Untuk malam yang semakin larut. Bersama dengan gelap yang telah sempurna mengukung langit. Indah rasi bintang membentang, memanjakan setiap pasang mata yang memandang. Mengindahkan rasa syukut yang bersemayam di hati. Entah mengapa semua kenangan itu semakin membekas.
Menikmati luasnya lautan, memandang mentari yang akhirnya tenggelam di ufuk barat. Semua hal itu akan amat sangat menyenangkan. Pasir pantai yang begitu lembut, membawa suasana menjadi lebih menyenangkan. Bukankah senyum yang kau tunjukan saat itu membuatku yakin? Sempurna membawaku pada semua angan tertinggi. Memilikimu.
Namun roda takdir akan terus berputar. Biarkan semua bergerak sesuai rotasi. Menempatkanku pada tempat terbaik, dimana aku mampu melihatmu bahagia. Mampu melihatmu tersenyum dengan setiap nikmat yang kau dapatkan. Biarlah aku walau hanya sebagai pengantarmu menuju kebahagiaan tersebut. Setidaknya hal itu bisa menjadi bukti bagimu, sebesar apa rasaku ingin melihatmu tersenyum.
Demi bentangan samudera nun luas. Tatapanmu selalu berhasil membawaku menghadap pada optimisme besar. Rasanya ingin terus bergerak tanpa mampu berhenti. Membawamu pergi jauh hingga kita mampu melihat ujung dunia bersama. Melihat setiap inci keindahan yang telah diciptakan-Nya.
Teruntuk sebuah pertemuan, setiap orang selalu saja tak siap dengan sebuah perpisahan. Demikian pun dengan diri ini. Selalu tak ingin, bahkan tak pernah berpikir untuk berpisah. Bukan kah semua hal itu terlalu indah untuk dilupakan. Entahlah, apa hanya diriku yang berpikir demikian. Bagaimana denganmu?
Aku tahu, bukan hakku untuk bertanya seperti itu. Kau pun berhak untuk memilih pergi. Tapi tidak dengan sebaliknya. Aku tak berhak untuk menahanmu pergi. Namun apabila suatu saat kau memilih seperti itu. Izinkan aku untuk membawamu kembali ke tempat dimana kita mengukir semua kebahagiaan itu.
Aku tak akan pernah menyesal dengan semua waktu yang akan kita lalui. Lagi pula, itu bukti bahwa aku pun pernah mennjadi seseorang yang begitu penting bagimu. Seseorang yang sangat kau khawatirkan. Seseorang yang selalu kau pikirkan. Setidaknya semua hal itu sudah cukup bagiku.
Walau pun pada akhirnya, aku tak pernah ingin semua hal buruk itu terjadi. Tak pernah ingin semua waktu yang telah kita lalui hilang begitu saja. Tak ingin nama yang kita ukir di atas pantai saat itu terhapus oleh ombak

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.