Skip to main content

Malam Tanpa Nestapa


Malam semakin larut. Waktu yang begitu sempurna untuk menikmati hangatnya kopi hitam yang asapnya masih begitu tebal mengepul. Kau tau kawan, aku merindukanmu saat ini. Duduk di samping menikmati semua keindahan langit penuh dengan kelam. Kau selalu bilang, di ujung malam bukanlah nestapa, pada akhirnya bulan akan kembali tenggelam dan mentari kembali terbit. Bersama dengan semua harapan yang tumbuh dan mengembang.

Kepulan asap mulai menipis, tapi bara tembakau yang menyambung membuat langit-langit pengap dengan segala kelegaan. Menghela nafas sedikit, lalu kau melanjutkan kembali ucapanmu. Berbicara tentang sistematika hidup yang begitu luar biasa. Bagaimana tidak, plot terhebat yang pernah adalah hidup kita sendiri bukan. Tanpa disadari begitu banyak keajaiban yang terjadi hanya saja sering kali kita melihatnya dengan mata telanjang.
Membiarkan akal tertidur dan hati terkurung.
Angkuh dengan indera yang seharusnya masing-masing tersambung keseluruhan. Khalayak semesta yang mengikuti hukum dari sang Pencipta. Tak pernah bertanya. Tak pernah mengeluh. Mengikuti setiap rotasi yang ada. Bagaimana dengan kita? Di situ lah perbedaan makhluk yang disebut manusia dengan yang lain. Kita bisa benar-benar berjuang untuk setiap inci kehidupan. Memilih dan memilah setiap dari keputusan. Menimbang setiap resiko yang siap ditanggung.
Aku sadar dengan semua renungan ini. Bukan lagi saatnya untuk terus terbawa arus kegundahan. Perlahan menghancurkan pandangan, mengalihkan setiap pada keputusan. Sudah saatnya berhenti memikirkan kisah romansa anak remaja. Bukankah aku selalu menggunakan kata ‘remaja tanggung’ pada diriku.
Hidup selalu saja tentang pejuangan. Semua selalu tentang peluh yang jatuh membasahi jiwa serta raga. Semua selalu tentang jantung yang berdetak cepat menanggung pertanggung jawaban. Semau selalu tentang seberapa baik kita mampu menyikapi setiap daripada pertanyaan. Bukan berusaha untuk mencari jawaban, tapi untuk menerimanya. Sering kali jawaban yang kita cari sudah hadir, hanya diri yang menolak untuk menerimanya. Memaksa untuk mencari kemungkinan lain yang pada akhirnya berujung pada keputusasaan.
Tak perlu muluk-muluk tentang kebajikan yang kau serukan. Bukankah sudah pernah kusampaikan tiga hal penting yang perlu dilakukan kita sebagai manusia. Kaji ilmu, kaji diri, kaji rasa. Tentunya mudah untuk mengkaji ilmu, saat di sekolah pun setiap orang mengkaji ilmu, pada saat kecil pun tentunya orangtua kita pun sering memberikan kajian tentang ilmu. Ilmu tentang bagaiman berbicara, ilmu tentang bagaimana bersikap sopan pada orang lain, ilmu tentang bagaimana akhirnya kita harus menjalani hidup.
Mengkaji diri bisa dimulai dengan sadar pada setiap hal yang kita suka dan kita benci. Setelah sadar semua tentang hal itu, hanya perlu tekad untuk tidak melakukan hal yang kita benci itu terhadap orang lain. Kaji rasa berada di tingkat lebih tinggi. Dimana kita harus bersikap adil, menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bersikap lebih hati-hati untuk menjaga perasaan orang lain.
Semua pembicaraan ini selalu menarik. Menghabiskan waktu membicarakan sang alam. Sempat kuberpikir, apa membicarakan mereka adalah tindakan ghibah, karena kita membicarakan salah satu ciptaan-Nya.
Cangkir sudah mulai kosong, bara yang menyala pun semakin pendek hingga akhirnya asbak ini kembali penuh dengan sisa-sisa dari waktu yang sudah berlalu.

Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.