Skip to main content

Bahagiamu


Satu lagi malam berlalu bersama dengan sang sepi. Angin yang berhembus sempurna membawa kenangan itu kembali memenuhi kepala. Sesak sudah isi dada. Sejuk , tapi menggundahkan. Damai, tapi penuh dengan kegelisahan.

Kau tahu kawan, terkadang masalah perasaan memang sangat menyulitkan. Ketika kita mencoba untuk percaya pada sebuah harapan, entah mengapa semesta seakan ingin sekali ikut bergurau. Menertawakan terhadap pilihan hati. Entahlah, apa itu benar-benar pilihan hati? Atau hanya nafsu yang berkata? Memaksa untuk memiliki? Merajuk untuk mencintai?
Mereka sering kali bilang, melihatnya bahagia walau pun tak bersama kita adalah bukti dari cinta yang sebenarnya. Akan tetapi, entahlah, untukku itu semua amat sangat sulit. Kau pasti tau, waktu yang sudah kami lalui tidaklah sebentar. Tidak sedikit kenangan yang sudah kami buat. Tak sedikit senyum yang saling dilemparkan dan tak sedikit pula pilu dan tangis yang sudah jatuh.
Dan kini untuk mempercayai perkataan kuat seperti sudah pasti amat sulit bukan? Kau bilang, setidaknya aku adalah orang yang sampai akhir bertahan, percaya pada semua janji, percaya pada seluruh senyum dan tangis yang telah terjadi.
Dan untukmu, kau ingat saat pertama kali aku menyatakan semua perasaan ini. Dan itu pun bukan serta-merta dimana aku memintamu untuk menjadi salah seseorang yang penting bagiku. Pada saat itu matahari sempurna tumbang di penghujung barat. Menyisakan siluet jingga yang menggantung di langit. Gelap mulai menguasai warna dasarnya, membuat lampu jalan begitu cantik. Dan kau tau? Wajahmu lebih cantik di banding semua lampu itu.
Atau, apa kau ingat? Tangis pertamamu? Tangis yang terjadi ketika aku berencana untuk pergi. Yah pergi jauh, dan mungkin akan memakan waktu yang lama untuk kembali. Dan demi mengujimu, aku sampaikan keinginan tersebut, akan seperti apa reaksimu. Dan ternyata reaksimu sempurna melebihi perkiraanku. Air mata itu jatuh dan membasahi pipimu. Dan satu lagi kilau indah yang aku lihat, bukan di langit, melainkan di wajahmu.
Hingga akhirnya berlarut, menemanimu dalam setiap masa sulit. Mencoba untuk terus menjadi sosok yang dapat diandalkan. Selalu berusaha untuk membantu memenuhi setiap ingin dan butuhmu. Bahkan aku tidak segan untuk megenalkanmu kepada kedua orang tuaku. Kau tau kenapa? Alasan selalu saja mudah bukan, karena aku benar-benar telah menaruh seluruh rasa dan asa terhadapmu.
Tangis kedua yang aku lihat adalah ketika kau menangis di hadapan pusara ayahmu. Aku tau, aku takan pernah mengerti dari rasa kehilangan yang kau alami, karenanya aku selalu berusaha untuk tidak pernah mencoba untuk menjauh apalagi menghilang. Yang kulakukan hanya ingin kau tak merasa sendiri, bukan kah kau sudah bertemu dengan mereka? Yah mereka, dua orang yang amat sangat penting bagi hidupku, dan sebelumnya aku berharap mereka berdua akan menjadi orang yang amat sangat penting bagimu.
Namun, bersama dengan hujan yang turun, akan selalu meninggalkan riak di jalan. Ketika aku merelakan sesuatu yang penting bagimu, ternyata tidak denganmu. Entah apa yang kau pikirkan, belakangan ini kau begitu banyak berhubungan dengan orang lain. Semakin hari semakin banyak dan terus bertambah. Hingga pada akhirnya, di mana hari raya menjadi hari yang penuh dengan suka justru terkurung duka. Pada malam itu, kau sempurna memilih orang lain untuk tetap bersamamu. Waktu dan perjuanganku sempurna kalah dengan semua beberapa kali kalian bertemu.
Apa kau ingat? Berapa waktu yang kuhabiskan untuk mengutarakan semua hal ini?
Haahh... Kenapa semua hal ini jadi begitu amat menyulitkan. Sudahlah, yang terpenting bahagiamu. Aku selalu berandai aku yang menjadi bahagiamu, namun kalau memang bukan, setidaknya aku berterima kasih kepadamu karena memperbolahkanku untuk mengantarmu pada titik bahagia tersebut.
Aku adalah asap, yang akan terus terbang dengan angkuh terbang ke langit yang pada akhirnya menghilang. Tanpa perlu kau memerhatikannya lagi.


Comments

Popular posts from this blog

Tragedi Dan Komedi

https://cdn.pixabay.com/photo/2014/04/03/11/50/drama-312318_960_720.png Langit saat ini telah sempurna kelam, sebelum sang waktu datang menentukan. Kelabu nan sendu. Bersama hujan, membasahi bumi pertiwi, angin berhembus merdu menyegarkan. Cukup lama sudah diri duduk termenung dengan kopi hitam mengepul. Mengisi kehangatan di antara dinginnya suasana. Tentu saja kamu pun begitu.

Teriakan Dalam Kegelapan Hati

Bulan semakin menaiki tahta tertinggi dilangit. Bertengger di gelapnya malam dengan gagahnya. Memberikan setitik cahaya yang menenangkan kalbu. Kawan, malam ini semakin larut dan waktu terus berjalan. Sempat siang tadi aku mendapatkan kabar yang cukup menusuk hati. Ingin rasanya aku tidak mempercayai kabar itu, namun bagaimana pun itu adalah kabar yang tervalidiasi kebenarannya dan diketahui oleh khalayak umum.

Relativitas Nilai Kehidupan

Saat sekolah dasar kita pernah belajar—dan juga diajari—bahwa pancasila adalah dasar ideologi negara kita. Yang menjadikan hal tersebut seharusnya sebagai landasan seluruh masyarakat untuk melakukan atau memutuskan sesuatu. Mesti sesuai dengan nilai pancasila tersebut. Namun, dewasa kini, modernitas nilai itu sendiri mulai memasuki tahap ‘mengkhawatirkan’. Hal ini terjadi bukan hanya karena kesalahan oleh salah satu pihak. Pemerintah atau masyarakat itu sendiri.