Satu lagi malam berlalu
bersama dengan sang sepi. Angin yang berhembus sempurna membawa kenangan itu
kembali memenuhi kepala. Sesak sudah isi dada. Sejuk , tapi menggundahkan. Damai,
tapi penuh dengan kegelisahan.
Kau tahu kawan, terkadang
masalah perasaan memang sangat menyulitkan. Ketika kita mencoba untuk percaya
pada sebuah harapan, entah mengapa semesta seakan ingin sekali ikut bergurau. Menertawakan
terhadap pilihan hati. Entahlah, apa itu benar-benar pilihan hati? Atau hanya
nafsu yang berkata? Memaksa untuk memiliki? Merajuk untuk mencintai?
Mereka sering kali bilang,
melihatnya bahagia walau pun tak bersama kita adalah bukti dari cinta yang
sebenarnya. Akan tetapi, entahlah, untukku itu semua amat sangat sulit. Kau pasti
tau, waktu yang sudah kami lalui tidaklah sebentar. Tidak sedikit kenangan yang
sudah kami buat. Tak sedikit senyum yang saling dilemparkan dan tak sedikit
pula pilu dan tangis yang sudah jatuh.
Dan kini untuk mempercayai
perkataan kuat seperti sudah pasti amat sulit bukan? Kau bilang, setidaknya aku
adalah orang yang sampai akhir bertahan, percaya pada semua janji, percaya pada
seluruh senyum dan tangis yang telah terjadi.
Dan untukmu, kau ingat saat
pertama kali aku menyatakan semua perasaan ini. Dan itu pun bukan serta-merta
dimana aku memintamu untuk menjadi salah seseorang yang penting bagiku. Pada saat
itu matahari sempurna tumbang di penghujung barat. Menyisakan siluet jingga
yang menggantung di langit. Gelap mulai menguasai warna dasarnya, membuat lampu
jalan begitu cantik. Dan kau tau? Wajahmu lebih cantik di banding semua lampu
itu.
Atau, apa kau ingat? Tangis
pertamamu? Tangis yang terjadi ketika aku berencana untuk pergi. Yah pergi
jauh, dan mungkin akan memakan waktu yang lama untuk kembali. Dan demi
mengujimu, aku sampaikan keinginan tersebut, akan seperti apa reaksimu. Dan ternyata
reaksimu sempurna melebihi perkiraanku. Air mata itu jatuh dan membasahi
pipimu. Dan satu lagi kilau indah yang aku lihat, bukan di langit, melainkan di
wajahmu.
Hingga akhirnya berlarut,
menemanimu dalam setiap masa sulit. Mencoba untuk terus menjadi sosok yang
dapat diandalkan. Selalu berusaha untuk membantu memenuhi setiap ingin dan
butuhmu. Bahkan aku tidak segan untuk megenalkanmu kepada kedua orang tuaku. Kau
tau kenapa? Alasan selalu saja mudah bukan, karena aku benar-benar telah
menaruh seluruh rasa dan asa terhadapmu.
Tangis kedua yang aku lihat
adalah ketika kau menangis di hadapan pusara ayahmu. Aku tau, aku takan pernah
mengerti dari rasa kehilangan yang kau alami, karenanya aku selalu berusaha
untuk tidak pernah mencoba untuk menjauh apalagi menghilang. Yang kulakukan
hanya ingin kau tak merasa sendiri, bukan kah kau sudah bertemu dengan mereka? Yah
mereka, dua orang yang amat sangat penting bagi hidupku, dan sebelumnya aku
berharap mereka berdua akan menjadi orang yang amat sangat penting bagimu.
Namun, bersama dengan hujan
yang turun, akan selalu meninggalkan riak di jalan. Ketika aku merelakan
sesuatu yang penting bagimu, ternyata tidak denganmu. Entah apa yang kau
pikirkan, belakangan ini kau begitu banyak berhubungan dengan orang lain. Semakin
hari semakin banyak dan terus bertambah. Hingga pada akhirnya, di mana hari
raya menjadi hari yang penuh dengan suka justru terkurung duka. Pada malam itu,
kau sempurna memilih orang lain untuk tetap bersamamu. Waktu dan perjuanganku
sempurna kalah dengan semua beberapa kali kalian bertemu.
Apa kau ingat? Berapa waktu
yang kuhabiskan untuk mengutarakan semua hal ini?
Haahh... Kenapa semua hal
ini jadi begitu amat menyulitkan. Sudahlah, yang terpenting bahagiamu. Aku selalu
berandai aku yang menjadi bahagiamu, namun kalau memang bukan, setidaknya aku
berterima kasih kepadamu karena memperbolahkanku untuk mengantarmu pada titik
bahagia tersebut.
Aku adalah asap, yang akan
terus terbang dengan angkuh terbang ke langit yang pada akhirnya menghilang. Tanpa
perlu kau memerhatikannya lagi.

Comments
Post a Comment